Tanggapan Christian Hadinata, Tim Bulutangkis Indonesia Ambyar di Thailand
Bandar36JPDewa

Legenda bulutangkis, Christian Hadinata memberi sorotan tajam pada prestasi tim bulutangkis Indonesia ketika menjalani turnamen di Bangkok, Thailand kemarin. Tim Merah-Putih telah gagal memanfaatkan momentum yang ada. Dengan hasil tidak memuaskan sama sekali, Indonesia menutup tiga turnamen di Bangkok.

PBSI hanya mampu meraih satu gelar dari total 15 gelar yang diperebutkan sepanjang tiga turnamen itu. Padahal, skuad yang diturunkan nyaris penuh karena hanya Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon yang absen. Kevin terpapar virus Corona pada saat mereka akan mempersiapkan keberangkatan.

Hal yang membuat keadaan semakin miris adalah karena Indonesia masih terus mengandalkan gaek Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Mereka memiliki beban dari harapan Indonesia untuk bisa lolos babak semifinal BWF World Tour Super 1000. Hal ini tidak dialami Greysia Polii/Apriyani karena mereka berhasil meraih gelar pada Thailand Open edisi pertama.

Tanggapan Christian Mengenai Peluang dan Keuntungan di Pihak Tim Tanah Air

Christian menilai jika untuk saat ini, tim bulutangkis Tanah Air sangat bergantung pada kecermatan yang dimiliki pelatih dan atletnya. Terutama di situasi serba terbatas akibat pandemi Covid-19. Seorang pelatih harus mampu memberi motivasi pada anak didiknya. Hal ini penting akibat adanya batasan-batasan yang mengekang.

Misal, para atlet tidak diizinkan keluar dari hotel. Atlet-atlet juga menghadapi tantangan bagaimana cara untuk mengatasi kebosanan di tengah ketatnya protokol kesehatan. Christian menilai jika dilihat secara keseluruhan, atlet Tanah Air belum mampu mengatasi tantangan itu.

Hal ini terlihat dari bagaimana kondisi atlet dari negara lain yang mengalami situasi serupa, namun mereka memiliki performa relatif stabil. Baik untuk segi sisi fisik hingga mental atlet. Bahkan ada tim yang berhasil menjuarai tiga turnamen sebanyak tiga kali. Atau paling minimal mereka bisa menembus semifinal hingga final dari tiga turnamen.

Hal ini menjadi gambaran bagaimana perbedaan bagaimana atlet Tanah Air mengatasi situasi tidak mendukung, terlihat masih tertinggal dari cara pesaing mereka. Kondisi skuad Indonesia makin terpuruk karena mereka tidak mampu memanfaatkan peluang dari ketidakhadiran negara China dan Jepang di turnamen ini.

Christian menambahkan jika seharusnya ini menjadi kesempatan yang baik. Mereka memang tidak bisa mengetahui bagaimana persiapan masing-masing negara. Akan tetapi, tim Indonesia diuntungkan karena dengan berjalannya Pelatnas Cipayung, mereka bisa mempersiapkan diri meski dibatasi protokol kesehatan dengan baik. Dengan begitu, para atlet masih memiliki kesempatan untuk berlatih.

Meski Mendapat Banyak Keuntungan, Hasil Berkata Lain

Meski atlet Indonesia diuntungkan dengan persiapan matang dan peluang berkurangnya saingan berat mereka, pada prakteknya, tim wakil Indonesia tidak menuai hasil maksimal. Bahkan performa atlet ini berbanding terbalik jika dilihat dari grafik. Hal ini bisa dilihat dari hasil turnamen Thailand Open yang pertama memang cukup baik.

Greysia/Apriyani berhasil meraih gelar juara. Mereka sudah bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Jika memang mereka masih kagok dan hasil pertama belum maksimal, seharusnya pada pertandingan kedua dan ketiga bisa lebih baik lagi. Namun, yang dialami wakil Indonesia justru terbalik.

Hasil terbaik di turnamen ketiga hanya prestasi The Daddies yang sampai di final turnamen terakhir. Christian memberi saran agar hasil dari Asian Leg bisa dijadikan sebagai pembelajaran untuk menghadapi turnamen selanjutnya di Eropa. Mereka harus bisa mengatasi kondisi serba terbatas ini.

Baik pelatih dan atlet harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin karena mereka akan melakukan turnamen jarak jauh di Eropa. Semua atlet ingin jadi juara All England sehingga perlu persiapan menghadapi sistem gelembung. Kemampuan negara lain yang bisa menguasai situasi di tengah pandemi selama turnamen Thailand harus jadi pembelajaran.

IndokasinoBantengmerahKLIK4A