Sempat Terbuang, Sekarang Pemain Ini Menjadi Senjata Rahasia Juventus

Nasib Gonzalo Higuain di Juventus tak ubahnya seperti perjalanan sebuah roller coaster yang tak pernah stabil, selalu mengalami pasang surut. Datang dari Napoli pada musim 2016/2017 Higuain pernah menjadi pahlawan yang begitu disanjung Juventini. Namun, ia juga sempat menjadi pesakitan ketika menjadi “orang buangan”. Kini, strker berusia 31 tahun itu sedang berupaya mengambil kembali tempatnya di hati fans klub berjuluk Bianconerri tersebut.

Higuain didatangkan dari rival ScudettoJuventus saat itu, Napoli diawal musim 2016/2017 kala Juve masih ditangani oleh Massimiliano Allegri. Kepergiannya dari kubu Napoli sempat menimbulkan kebencian yang sangat mendalam dihati Noplitano kala itu. Diklub barunya, Juventus, Higuain membuktikan kapasitas dan harga mahalnya dengan sumbangsih luar biasa dimusim perdananya. 32 gol dalam 55 laga (22 gol di Serie-A, 5 gol UCL dan 3 gol di Copa Italia), jelas sangat berarti dalam prestasi Juve yang meraih Scudetto dan gelar Copa Italia. Wajar jika Juventini kemudian menyanjungnya.

Performa gemilang tersebut kembali terulang pada musim keduanya. Higuain sukses melesakan 23 gol dalam 50 laga (16 Serie-A, 5 UCL dan 2 Copa). Meski mengalami penurunan dari sisi produktivitas gol, namun tetap saja apa yang diberikan Higuain tersebut memberikan efek yang signifikan terhadap pencapaian Si Nyonya Tua musim itu.

Petaka bagi Higuain terjadi dimusim ketiganya bersama Juve, atau musim 2018/2019 lalu. Tepatnya ketika klub memutuskan untuk mendatangkan mega bintang Cristiano Ronaldo demi ambisi meraih tropi Liga Champions. Higuain seolah menjadi pahlawan yang terlupakan. Ia sama sekali tak dilirik oleh Allegri yang lebih memilih Mario Mandzukic, Paulo Dybala dan Douglas Costa untuk menemani Ronaldo.

Tak dibutuhkan oleh Juve, Higuain kemudian mengambil keputusan untuk pergi. AC. Milan menjadi pelabuhan bomber Timnas Argentina tersebut dengan status pinjaman dan opsi pembelian penuh diakhir musim. Tujuannya hanya satu, ingin membuktikan bahwa Juve telah salah menyisihkannya.

Sayangnya performanya di Milan ternyata jeblok. Higuain hanya sukses menjaringkan delapan gol (6 Serie-A dan 2 Europa League). Hal ini membuat pelatih Milan saat itu, Genaro Gattuso memutuskan untuk memboyong Krzysztof Piatek yang sedang tampil hebat bersama Genoa.

Kedatangan Piatek membuat nasib Higuain kembali terkatung-katung. Tak dibutuhkan Milan, dan tak mungkin kembali ke Juve membuatnya sempat frustasi. Saat itulah pelatih yang begitu mengenalnya ketika bersama-sama di Napoli, Maurizio Sarri yang kala itu menangani Chelsea memberinya kesempatan. Maka Higuain pun terbang ke Chelsea dengan asa tinggi, bisa kembali moncer dibawah arahan pelatih yang mempercayainya.

Namun yang terjadi kemudian ternyata jauh dari ekspektasi. Higuain kembali gagal menunjukan kelasnya. Ia kalah bersaing dari Eden Hazard yang lebih dipercaya Sarri menjadi mesin gol utama Chelsea. Di Chelsea ia hanya tampil sebanyak 18 kali dengan torehan hanya lima gol saja.

Awal musim ini Higuain “terpaksa” harus kembali ke Juventus. Namun klub kota Turin tersebut ternyata masih pada keputusannya dulu, mereka sama sekali tak membutuhkan jasa Higuain.

Sarri yang kemudian menjadi pelatih Juve pun seolah mengikhlaskan mantan pemain kesayangannya tersebut pergi. Maka klub pun tak ragu lagi menunjukan sikap untuk “mengusir” Higuain. Ia beberapa kali ditawarkan keberbagai klub, meski sang pemain keukeuh untuk bertahan. AS. Roma sempat menjadi calon kuat klub Higuain berikutnya.

Seperti dketahui kemudian, Higuain akhirnya bertahan bersama Juventus musim ini. Ia sadar hanya akan menjadi pilihan ketiga dbelakang Ronaldo dan Dybala. Namun ia menunjukan kebesaran mentalnya dengan terus bekerja keras dalam latihan. Dan memastikan diri siap kapanpun ketika Juventus dan Sarri membutuhkannya.

Tujuh pekan berjalan, sembilan pertandingan sudah dijalani Juventus sejauh ini, Higuain terlibat dalam delapan laga diantaranya. Ia hanya absen ketika Juventus beraksi melawan SPAL pada giornata 6 Serie-A. Sumbangsih golnya mungkin hanya tiga saja, namun semuanya memberikan kontribusi besar bagi kesuksesan Juventus sejauh ini.

Satu gol ia lesakan kegawang Napoli dipekan kedua liga, yang berakhir dengan kemenangan 4-3 bagi Juventus. Satu gol ia cetak ketika membantu Juve membantai Leverkusen dengan skor 3-0 diajang UCL. Dan satu gol lainnya (Ini yang paling berharga sejauh ini) ia lesakan kegawang musuh bebuyutan Juve, Inter Milan dalam Derby de Italia akhir pekan lalu. Gol tersebut jelas sangat penting karena menjadi penentu kemenangan 2-1 Juventus sekaligus membawa Juve kepuncak klasemen Serie-A.

Melihat performa Paulo Dybala yang juga semakin meningkat akhir-akhir ini, bukan tak mungkin bahwa Sarri tetap akan lebih mengandalkan duet Ronaldo-Dybala pada sisa musim ini. Namun Sarri juga tak mungkin begitu saja melupakan apa yang telah dilakukan Higuain sejauh ini. Setidaknya El Pepita bisa menjadi senjata andalan Juventus ketika duet utama mereka mentok. Dan Higuain akan selalu siap dengan sumbangsih berharganya.