Evaluasi Setelah Hanya Dapat Satu Gelar dari 3 Turnamen
Bandar36JPDewa

Pada ajang BWF World Tour Finals 2020, Indonesia mengalami kegagalan total dengan hasil sangat buruk. Satu-satunya pencapaian terbaik dari wakil Indonesia untuk ajang ini adalah runner-up untuk nomor ganda putra. Hasil ini diperoleh dari pasangan senior Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.

Jika dilihat secara keseluruhan dari tiga rangkaian turnamen dalam kurun waktu tiga pekan berturut-turut Bangkok, Thailand, Indonesia, mereka hanya mampu mengemas satu gelar. Gelar ini didapat dari Greysia Polii/Apriyani Rahayu di sektor ganda putri dalam ajang Yonex Thailand Terbuka.

Ajang ini berlangsung pada 12-17 Januari lalu. Kabid Binpres PP PBSI, Rionny Mainaky menyampaikan jika pencapaian yang didapat oleh wakil Tanah Air memang sangat buruk dan mengecewakan. Pihaknya akan melakukan evaluasi, baik itu untuk para pemain hingga pelatih mereka.

Siap Lakukan Evaluasi untuk Wakil dari Indonesia

Setelah semua pihak kembali ke Indonesia, Rionny Mainaky berencana untuk mengumpulkan semuanya. Tentu saja setelah mereka melakukan karantina mandiri. Apa yang terjadi dalam rangkaian turnamen itu memang harus dievaluasi secara keseluruhan. Memang faktor pebulutangkis sangan vital, namun evaluasi tetap harus dilakukan semua pihak.

Yang perlu mereka lakukan adalah mengecek semua hal secara detail. Mereka perlu menonton ulang semua pertandingan yang sudah dilalui selama turnamen kemarin. Pelatih untuk masing-masing sektor harus mendapat evaluasi secara sungguh-sungguh. Wajib untuk membuat catatan mengenai apa sajang yang harus diperbaiki.

Rionny Mainaky juga menyampaikan secara khusus jika dirinya melihat telah terjadi penurunan pada daya juang seluruh pemain yang ambil bagian dalam ajang Yonex Thailand Terbuka, Toyota Thailand Terbuka, dan BWF World Tour Finals. Penurunan daya juang terjadi pada semua pemain, kecuali Greysia/Apriyani.

Mainaky mengatakan jika dari sisi konsentrasinya, Greysia/Apriyani cukup konsisten hingga pada akhirnya bisa keluar sebagai juara. Sedangkan pemain lain masih mengalami keadaan goyah. Mereka memiliki daya juang, namun masih belum stabil dan naik turun. Sayangnya, untuk bisa naik atau bangkok itu cukup susah.

Rionny masih belum melakukan koordinasi lebih lanjut untuk bisa membahas hal secara terkhusus berdasarkan hasil World Tour Finals 2020. Hal ini disebabkan karena dirinya sudah kembali ke Indonesia bersamaan dengan kepulangan kloter pertama pada hari Senin (25/1) lalu.

Masalah Teknis Hingga Non-Teknis Harus Dievaluasi

Indonesi belum memenuhi target untuk tiga turnamen di Thailand itu. Bahkan bisa dikatakan jika skuad Tanah Air justru menunjukkan penurunan. Rionny menilai jika hasil buruk ini didapat bukan hanya karena segi teknis, namun juga dari sisi non-teknis, terutama untuk permasalahan stamina.

Rionny menyampaikan bahwa memang lawan yang mereka hadapi jauh lebih siap bertanding. Misalnya seperti wakil Taiwan, Lee Yang/Wang Chi Lin. Wakil Indonesia juga mengalami permasalahan secara non-teknis yang lebih dikuasai lawannya. Misal seperti postur, faktor makanan, minuman, dan nutrisi, dan juga tenaga.

Wakil Taiwan memiliki kelebihan dari segi non-teknis tersebut sehingga bisa bermain secara stabil hingga menjuarai pertandingan. Kemudian, hal paling inti dari evaluasi yang nanti dilakukan adalah bagaimana mengembalikan motivasi para atlet, terutama daya juang mereka.

Mereka memiliki tugas besar untuk menganalisis apa yang bisa membuat mereka lebih bersemangat dalam bertanding. Dalam permainan pertama di ajang Yonex Thailand Open, semua pemain harus melakukan karantina dulu baru kemudian bisa berlatih. Para atlet terkendala pada waktu latihan yang sedikit.

Melakukan evaluasi sangat penting karena tim Indonesia sangat membutuhkannya. Hasil evaluasi ini nantinya akan digunakan sebagai bahan persiapan semua pihak menuju Olimpiade Tokyo 2020 pada bulan Juli mendatang. Rionny menyebutkan bahwa kini dia bisa memilih strategi yang cocok untuk para atlet.

IndokasinoBantengmerahKLIK4A