liverpool
Bandar36JPDewa

Liverpool menjadi tim yang sulit dikalahkan, the Reds merupakan tim yang paling sedikit menelan kekalahan, satu-satunya kekalahan Liverpool di liga hanya saat dijamu sang juara Manchester City. Sedangkan dua kekalahan lain terjadi di piala Liga dan FA.

Namun demikian ada beberapa laga yang cukup menyulitkan Liverpool, hal ini yang bisa memberikan referensi ke lawan Liverpool bahwa ada sisi yang bisa dieksploitasi untuk mencuri hasil.

1. Full back bermain dalam

Pola serangan Liverpool mengandalkan kecepatan dan kemampuan penyerang sayap dalam mencari ruang kosong lawan. Pada laga leg pertama 16 besar Liga Champions musim ini melawan Bayern ciri permainan itu tidak tampak, Bayern sukses menahan imbang Liverpool tanpa gol, bahkan menurut statistik yang dirilis detik,com (20/02/2019) menunjukkan selama pertandingan Liverpool hanya membuat dua tembakan ke gawang dari 15 percobaan, statistik yang tidak terlalu baik untuk tim yang bergaya menyerang.

Bayern berhasil meredam pergerakan penyerang sayap Liverpool dengan meninggalkan dua full backnya di garis pertahanan selama pertandingan, Joshua Kimmich dan David Alaba jarang sekali naik membantu serangan. Pola yang sama pernah diterapkan Solksjaer saat menahan imbang Liverpool di Old Trafford, dimana full back mereka berhasil “mengantongi” Salah dan Mane.

2. Hentikan Wijnaldum

Liverpool punya tiga penyerang yang bermain sangat cepat, namun cara terbaik bukan memberikan pengawalan khusus kepada Salah, Mane dan Firmino, tapi dengan menghentikan suplai bola ke mereka. Hal ini yang diungkapkan Valverde saat Barcelona mengalahkan Liverpool di Nou Camp. “Tiga penyerang Liverpool bermain sangat cepat, yang paling penting adalah bagaimana bola menghampiri mereka, jadi kami harus memenangkan pertarungan di lapangan tengah” ucap Valverde di situs uefa,com (02/05/2019). Pemain tengah Liverpool yang harus dimatikan adalah Giorgino Wijnaldum.

Wijnaldum adalah pemain Liverpool yang paling sering mengirim umpan, menurut data whoscored Wijnaldum memberi 1.668 umpan di Liga Inggris dan 431 umpan di Liga Champions.

3. Serangan lewat bola rendah

Liverpool punya Virgil Van Dijk yang berpostur tinggi dan jago duel udara, pola serangan dengan umpan panjang atau umpan silang adalah hal yang mudah dipatahkan Van Dijk. Pertandingan perempat final Liga Champions melawan Barcelona adalah salah satu pertandingan yang membuat Van Dijk sibuk.

Menurut indosport,com (18/04/2019) menghadapi tim dengan bek berpostur tinggi tidak cocok menggunakan skema serangan dengan umpan silang, gaya tiki taka Barca dengan bola pendek cepat dan mendatar beberapa kali membuat Van Dijk kalah langkah. Barcelona beberapa kali leluasa masuk ke kotak penalti Liverpool, dan Van Dijk termasuk sebagai pemain yang disalahkan saat Messi mencetak gol pertamanya.

4. Manfaatkan bola mati

Liverpool adalah tim yang memperagakan permainan pressing intensitas tinggi atau dikenal dengan gegenpressing, dimana ketika satu pemain Liverpool kehilangan bola dengan segera pemain tersebut harus memburu bola sebelum pemain lawan mengumpan, sedangkan pemain Liverpool lain bertugas menutup jalan umpan dengan melakukan pressing pada pemain yang tidak menguasai bola. Namun seperti analisa di situs tirto,id (18/09/2019) gegenpressing tidak berjalan maksimal saat menghadapi tim yang bertahan secara dalam dan tidak mengutamakan penguasaan bola.

Hal ini terjadi di musim lalu ketika Liverpool kalah dari Swansea di liga dan West Bromwich di piala FA, dua tim yang sekarang berlaga di divisi Championship, bahkan Liverpool tak mampu membuat gol, lalu apa yang dilakukan kedua tim untuk mengalahkan Liverpool? Selain melakukan serangan balik seefektif mungkin, mereka juga memanfaatkan bola mati, apalagi permainan pressing tinggi Liverpool beresiko membuat pelanggaran. Kubu Spurs memiliki Eriksen sebagai eksekutor handal bola mati, dia akan menjadi pembeda jika Spurs mendapat lebih banyak kesempatan dari bola mati.

5. Matikan penyerang kunci

Ini adalah cara yang dilakukan Madrid musim lalu di final Liga Champions, Sergio Ramos menjalankan peran itu dengan halus, Ramos melakukan aksi smackdown terhadap Salah seolah hal tersebut nampak seperti pelanggaran biasa.

Salah yang tidak bisa melanjutkan pertandingan akhirnya diganti, masalahnya striker cadangan Liverpool tidak secepat trio striker inti (Salah, Mane, Firmino), seketika permainan Liverpool berubah, sebaliknya Madrid memanfaatkan momen ceroboh Karius dan anjloknya mental pemain Liverpool untuk mencetak tiga gol. Seperti yang dilansir bola,net (11/08/2018) sesudah pertandingan Klopp mengaku geram dengan apa yang diperbuat Ramos kepada pemainnya, tidak hanya Salah, Karius juga mengalami gegar otak ringan karena sikutan Ramos, kendati demikian Klopp mengaku tidak heran mengingat di final musim sebelumnya melawan Juventus Ramos juga berulah dengan diving dan aksi pura-pura cedera yang membuat Cuadrado dikartu merah.

Itulah pertandingan yang bisa dijadikan referensi Spurs, dimana lawan yang mampu melihat kelemahan Liverpool tidak memberi kesempatan Liverpool untuk berkembang. Hal tersebut bisa dikombinasikan dengan ciri Spurs yang kerap membangun serangan dari pemain belakang, menurut situs cartilagefreecaptain.sbnation,com (29/05/2019) back four Spurs adalah barisan pengumpan yang baik, terutama duo center back Alderweireld dan Vertonghen, seperti proses gol Son saat menghadapi Arsenal di Premier League dimana Alderweireld mengirim umpan jauh ke Winks sebelum mengirim assist untuk Son.

Spurs sering memperagakan permainan direct membangun serangan dari lini belakang menuju sepertiga pertahanan lawan tanpa melibatkan lini tengah saat menghadapi tim yang mengandalkan posession. Menunggu dan mengandalkan serangan balik adalah game plan yang logis untuk menghadapi lawan seperti Liverpool. Mampukah Pochettino mengeksploitasi kelemahan Liverpool ?

IndokasinoBantengmerahKLIK4A